Mengapa Membenci Femisme?

Entahlah, mengapa mereka membenci feminisme?
Padahal yang diperjuangkan oleh feminisme adalah hak-hak perempuan.
Bukankah antara perempuan dan laki-laki itu
derajatnya sama seperti yang ada dalam kitab suci? Lantas kenapa harus membenci
gerakan yang berusaha menempatkan wanita pada posisi yang setara seperti
laki-laki? Maksudku, salahnya feminisme ini apa? Apakah kesetaraan hak antara
laki-laki dan perempuan itu suatu konsep pemikiran yang salah? Lantas yang
benar bagaimana? Perempuan lebih rendah, gitu, dari laki-laki?
Kenapa mau direndahkan terus, padahal dengan
Islam datang saja sudah berusaha mengangkat derajat wanita, tapi kok kamu malah
memilih untuk merendahkan dirimu sendiri terus......
Adanya Komisi Pemberdayaan
Perempuan adalah bentuk feminisme, sebab yang ingin dicapai komisi ini adalah
pengembangan perempuan demi menjadi masyarakat yang berkualitas, sejalan dengan
cita-cita feminisme.
Raden Ajeng Kartini adalah
seorang feminis. Bukunya "Habis Gelap Terbitlah Terang" adalah suatu
bentuk perlawanan terhadap budaya masyarakat saat itu yang melarang perempuan
untuk bersekolah. Pendidikan perempuan adalah salah satau cita-cita feminisme.
Malala Yousafzai adalah seorang feminis.
Aksinya yang melawan tentara Afganistan karena menurutnya perempuan itu pantas
mendapat pendidikan sejalan dengan visi feminisme.
Lantas, lagi lagi, kenapa begitu membenci
gerakan yang sejatinya berusaha mengangkat derajatmu sendiri?
"Kita gak perlu
feminisme. Agama kita sudah mengangkat derajat perempuan", kata mereka.
Yap, betul sekali. Agama kita memang sudah
mengangkat derajat perempuan. TAPI, kita juga harus membuka mata kita, apakah
di masyarakat kita, kita sudah dianggap berderajat tinggi seperti pria, atau
masih dianggap rendahan?
Masih banyakkah kasus pemerkosaan?
Masih banyakkah kasus pelecehan seksual?
Masih banyakkah kasus Kekerasan Dalam Rumah
Tangga (KDRT)?
Masih seringkah kita di catcalling pria-pria
gaje di jalan? "Neng mau kemana?" "Sayang, ati ati ya"
"Neng cantik ati ati di jalan yaaa" "Neng darimana kok malem
amat" "Neng udah malem sini abang temenin". Masih?
Masih seringkah kita dibilang teman kita,
"Kok lu iteman?" "Kok lu gendutan?" "Lu nggak pantes
pake baju begitu"
Kalau masih, berarti kita masih dianggap
sebagai masyarakat kelas rendahan! Kita belum dihargai sepenuhnya. Kita masih
dianggap sebagai objek semata, yang tidak berguna, yang hanya dinilai dari
fisiknya saja, dalam bahasa kerennya, 'Objectifying'. Yaps, masyarakat kita
masih suka 'Objectifying Women'.
Guys, jangan tutup mata. Kita masih dianggap
sebegitu rendahnya di mata masyarakat.
Maka dari itulah feminisme ini muncul. Bukan,
bukan sebagai bentuk perlawanan terhadap pria, apalagi perlawanan terhadap
ajaran agama.
TAPI SEBAGAI BENTUK PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA
MASYARAKAT KITA YANG MASIH MENGANGGAP WANITA SEBAGAI WARGA KELAS DUA DALAM
MASYARAKAT.
Jadi, apa salahnya?


0 komentar