Mengapa Membenci Femisme?

by - 12:34 AM


Hasil gambar untuk cartoon feminist

Entahlah, mengapa mereka membenci feminisme? Padahal yang diperjuangkan oleh feminisme adalah hak-hak perempuan.
Bukankah antara perempuan dan laki-laki itu derajatnya sama seperti yang ada dalam kitab suci? Lantas kenapa harus membenci gerakan yang berusaha menempatkan wanita pada posisi yang setara seperti laki-laki? Maksudku, salahnya feminisme ini apa? Apakah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan itu suatu konsep pemikiran yang salah? Lantas yang benar bagaimana? Perempuan lebih rendah, gitu, dari laki-laki?
Kenapa mau direndahkan terus, padahal dengan Islam datang saja sudah berusaha mengangkat derajat wanita, tapi kok kamu malah memilih untuk merendahkan dirimu sendiri terus......

Adanya Komisi Pemberdayaan Perempuan adalah bentuk feminisme, sebab yang ingin dicapai komisi ini adalah pengembangan perempuan demi menjadi masyarakat yang berkualitas, sejalan dengan cita-cita feminisme.

Raden Ajeng Kartini adalah seorang feminis. Bukunya "Habis Gelap Terbitlah Terang" adalah suatu bentuk perlawanan terhadap budaya masyarakat saat itu yang melarang perempuan untuk bersekolah. Pendidikan perempuan adalah salah satau cita-cita feminisme.
Malala Yousafzai adalah seorang feminis. Aksinya yang melawan tentara Afganistan karena menurutnya perempuan itu pantas mendapat pendidikan sejalan dengan visi feminisme.
Lantas, lagi lagi, kenapa begitu membenci gerakan yang sejatinya berusaha mengangkat derajatmu sendiri?

"Kita gak perlu feminisme. Agama kita sudah mengangkat derajat perempuan", kata mereka.
Yap, betul sekali. Agama kita memang sudah mengangkat derajat perempuan. TAPI, kita juga harus membuka mata kita, apakah di masyarakat kita, kita sudah dianggap berderajat tinggi seperti pria, atau masih dianggap rendahan?
Masih banyakkah kasus pemerkosaan?
Masih banyakkah kasus pelecehan seksual?
Masih banyakkah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)?
Masih seringkah kita di catcalling pria-pria gaje di jalan? "Neng mau kemana?" "Sayang, ati ati ya" "Neng cantik ati ati di jalan yaaa" "Neng darimana kok malem amat" "Neng udah malem sini abang temenin". Masih?
Masih seringkah kita dibilang teman kita, "Kok lu iteman?" "Kok lu gendutan?" "Lu nggak pantes pake baju begitu"
Kalau masih, berarti kita masih dianggap sebagai masyarakat kelas rendahan! Kita belum dihargai sepenuhnya. Kita masih dianggap sebagai objek semata, yang tidak berguna, yang hanya dinilai dari fisiknya saja, dalam bahasa kerennya, 'Objectifying'. Yaps, masyarakat kita masih suka 'Objectifying Women'.

Guys, jangan tutup mata. Kita masih dianggap sebegitu rendahnya di mata masyarakat.
Maka dari itulah feminisme ini muncul. Bukan, bukan sebagai bentuk perlawanan terhadap pria, apalagi perlawanan terhadap ajaran agama.
TAPI SEBAGAI BENTUK PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA MASYARAKAT KITA YANG MASIH MENGANGGAP WANITA SEBAGAI WARGA KELAS DUA DALAM MASYARAKAT.
Jadi, apa salahnya?


You May Also Like

0 komentar