• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

PERSPEKTIF SINGKAT





Dulu, yang melatarbelakangi saya memilih jurusan Ilmu Hukum adalah kasus Nenek Asyani Pencuri Kayu, karena menurut saya begitu tidak adilnya negeri ini menindas orang yang lemah, seperti mata pisau, yang tumpul ke atas namun tajam ke bawah. Rasanya, saya ingin membuat adil negeri ini dengan hukum yang tegak.
Namun setelah saya baru mempelajari setitik ilmu hukum di kampus, justru pemikiran saya berubah.
Dalam KUHP Bab 22 mengenai Pencurian, pencurian yang dilakukan pada siang hari seharusnya dihukumi maksimal 5 tahun penjara. Namun, Nenek Asyani hanya dihukumi 1 tahun (lebih beberapa bulan sebagai masa percobaan).
Artinya? Nenek Asyani telah mendapat begitu banyak kompromi potongan waktu hukuman.
Mengapa bisa terjadi kompromi sedemikian rupa? Sebab, inilah hati nurani dan berbagai pertimbangan yang dilakukan oleh hakim. Artinya? Keadilan SUDAH diimplementasikan kepada Nenek Asyani, sesungguhnya.
Kalau tidak adil, hakim akan menutup mata mengenai pertimbangan-pertimbangan lain yang melatarbelakangi vonis tersebut. Nenek Asyani akan dihukumi 5 tahun penjara, bukan hanya setahun....
Maka, inilah keadilan.
Mengapa kita menuntut supremasi hukum kepada para penguasa, sementara ketika supremasi hukum ditegakkan pada mereka yang hanya rakyat jelata, kita menutup mata dan berteriak marah mengira tidak diperlakukan adil? Bukankah yang kita inginkan adalah keadilan, artinya, siapapun yang bersalah, tidak melihat ia tua atau tidak, miskin atau tidak, harus dikenai hukum positif yang berlaku, bukan?
Kalau koruptor hanya dihukumi lebih sedikit dari yang diundang-undangkan KUHP misalnya, mengapa kita berteriak-teriak mengatakan ini tidak adil dan ingin hukuman dinaikkan, sedangkan Nenek Asyani yang juga sudah diberikan keringanan masa hukuman juga kita teriaki "Ini tidak adil!" dan ingin hukuman ditiadakan?
Kalau gitu, ini namanya kita standar ganda.
Giliran koruptor diberi keringanan, kita marah. Giliran Nenek Asyani ditindak sesuai hukum yg berlaku, kita marah juga. Padahal, koruptor ataupun seorang nenek tua sama-sama Warga Negara Indonesia yang sesuai Pasal 28D ayat 1 UUD 1945 adalah sama dihadapan hukum.
Sekali lagi, lihatlah segalanya dari berbagai perspektif. Percayalah, tidak semua hakim di pengadilan itu curang dan jahat. Tidak seluruh penegak hukum di negeri ini buruk dan kotor. Selalu ada hati nurani dan berbagai pertimbangan yang mereka gunakan ketika memvonis. Itu pasti.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Seorang Felix Siauw yang awalnya saya hormati dan saya kagumi dakwahnya, konon pernah membuat blunder isi kepala saya, hingga kini masih tak habis pikir.
Di bawah ini adalah salah satu racauannya di jejaring sosial Twitter,
Hasil gambar untuk tweet felix siauw perempuan

"Wanita itu harus kuat, mandiri, tidak bergantung yang lain | Ya sudah itu pilihanmu, jarang ada lelaki yg mau dengan wanita seseram itu hehe:D"
...Racauannya seakan mengatakan:
- Jadi perempuan harus lemah nangis mulu nan penyakitan, biar lelaki mau.
- Jadi perempuan harus gak bisa diandalkan gak bisa ngapa ngapain, biar lelaki mau.
- Jadi perempuan harus serba minta tolong karena semuanya gak bisa dilakuin, biar lelaki ada yang mau.
Astaga, mengapa hanya demi seonggok cinta seorang perempuan harus menjadi sedemikian tak manusiawi-nya? Mengapa harus menurunkan kualitas diri hanya agar ada yg 'mau' bersama kita? Apakah perempuan sungguh tidak boleh menjadi pribadi yg mandiri, kuat, dan dapat diandalkan, jika ingin mendapat jodoh?
Padahal, dalam Quran pun dijelaskan bahwa jodohmu adalah cerminan dirimu.
Jadi jelas, jika ada lelaki yg hanya bisa cinta dengan yang tak berkualitas, maka dirinya pun, tak berkualitas.

Bisa lihat seorang Hillary Clinton.
Siapa dia? Menteri Luar Negeri Amerika Serikat! Dia lemah? Dia tidak kuat? Dia selalu butuh pertolongan orang lain seakan dirinya tak bisa lakukan sendiri?
Justru tidak. Dia adalah wanita hebat, pintar nan cerdas. Diplomasinya mantap dan kepemimpinannya berkualitas. 'Seseram' itu dirinya, kan? Lalu apa itu artinya tidak ada laki-laki yang mau dengannya?
Justru tidak! Dunia tau siapa suaminya! Bill Clinton, suaminya Hillary, adalah MANTAN PRESIDEN AMERIKA SERIKAT, seorang negarawan mahsyur yg juga dikenal sebagai seorang wiraswasta nan sukses.

Lihatkan? Jodohmu adalah cerminan siapa dirimu!

Dear wanita, lelaki yang hebat, lelaki yang pantas untukmu, dan lelaki yang memang benar mencintaimu, tidak akan lari begitu saja saat melihatmu begitu 'seram', namun dia justru akan termotivasi dan justru terus melaju untuk menjadi 'setara seram'-nya atau justru 'lebih seram' darimu. Dia akan semakin bersemangat mengejarmu, sebab cantikmu baginya adalah sempurna, bukan hanya di wajah namun juga di kepribadian dan kepalamu.
Jika dia mundur saat melihatmu begitu menyeramkan, maka yakinlah, dia hanyalah satu dari sejumlah laki-laki di dunia ini yang memiliki self-esteem rendah, kualitas diri yang buruk, dan semangat yang layu. Dan, dia pun tak benar benar mencintaimu...
Dear wanita,
Tidak perlu menurunkan kualitas dirimu, justru tinggikanlah!
Sebab perempuan hebat itu seperti buah yg matang di pucuk; hanya lelaki yg hebat yg bisa mencapainya.
Kecerdasan wanita itu seperti mahkota besar. Kamu tak perlu memperkecil mahkota itu agar muat di genggaman si lelaki, Namun kamu perlu mencari lelaki lain dengan tangan lebih besar untuk bisa membawakan mahkotamu.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Sebenarnya cara berpikir kita begitu dipengaruhi dengan pendidikan dan buku yang kita baca.
Seleksi Petukaran Pelajar Antar Negara kemarin, semua peserta dari berbagai latar belakang pendidikan di beri pertanyaan yang sama saat wawancara: Siapa musuh Indonesia?
Dan semua memberi jawaban yang berbeda-beda, namun jika ditilik, sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Saya Mahasiswa Fakultas Hukum, menjawab bahwa musuh Indonesia adalah "Mereka yang melanggar hukum".
Teman saya yang seorang Mahasiswa Fakultas Pendidikan menjawab "Kebodohan".
Teman saya yang seorang Mahasiswa Hubungan Internasional menjawab "Australia, Malaysia, dan negara-negara yang berada dekat dengan Indonesia"
Teman saya yang seorang Mahasiswa Teknik menjawab "kemunduran ilmu pengetahuan dan teknologi".
Teman saya yang seorang Mahasiswa Fakultas Ekonomi menjawab, "Kemiskinan"
Inilah bukti bahwa di mana kamu berada akan menentukan cara berpikirmu, yang akan menciptakan kepribadianmu.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hasil gambar untuk cartoon feminist

Entahlah, mengapa mereka membenci feminisme? Padahal yang diperjuangkan oleh feminisme adalah hak-hak perempuan.
Bukankah antara perempuan dan laki-laki itu derajatnya sama seperti yang ada dalam kitab suci? Lantas kenapa harus membenci gerakan yang berusaha menempatkan wanita pada posisi yang setara seperti laki-laki? Maksudku, salahnya feminisme ini apa? Apakah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan itu suatu konsep pemikiran yang salah? Lantas yang benar bagaimana? Perempuan lebih rendah, gitu, dari laki-laki?
Kenapa mau direndahkan terus, padahal dengan Islam datang saja sudah berusaha mengangkat derajat wanita, tapi kok kamu malah memilih untuk merendahkan dirimu sendiri terus......

Adanya Komisi Pemberdayaan Perempuan adalah bentuk feminisme, sebab yang ingin dicapai komisi ini adalah pengembangan perempuan demi menjadi masyarakat yang berkualitas, sejalan dengan cita-cita feminisme.

Raden Ajeng Kartini adalah seorang feminis. Bukunya "Habis Gelap Terbitlah Terang" adalah suatu bentuk perlawanan terhadap budaya masyarakat saat itu yang melarang perempuan untuk bersekolah. Pendidikan perempuan adalah salah satau cita-cita feminisme.
Malala Yousafzai adalah seorang feminis. Aksinya yang melawan tentara Afganistan karena menurutnya perempuan itu pantas mendapat pendidikan sejalan dengan visi feminisme.
Lantas, lagi lagi, kenapa begitu membenci gerakan yang sejatinya berusaha mengangkat derajatmu sendiri?

"Kita gak perlu feminisme. Agama kita sudah mengangkat derajat perempuan", kata mereka.
Yap, betul sekali. Agama kita memang sudah mengangkat derajat perempuan. TAPI, kita juga harus membuka mata kita, apakah di masyarakat kita, kita sudah dianggap berderajat tinggi seperti pria, atau masih dianggap rendahan?
Masih banyakkah kasus pemerkosaan?
Masih banyakkah kasus pelecehan seksual?
Masih banyakkah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)?
Masih seringkah kita di catcalling pria-pria gaje di jalan? "Neng mau kemana?" "Sayang, ati ati ya" "Neng cantik ati ati di jalan yaaa" "Neng darimana kok malem amat" "Neng udah malem sini abang temenin". Masih?
Masih seringkah kita dibilang teman kita, "Kok lu iteman?" "Kok lu gendutan?" "Lu nggak pantes pake baju begitu"
Kalau masih, berarti kita masih dianggap sebagai masyarakat kelas rendahan! Kita belum dihargai sepenuhnya. Kita masih dianggap sebagai objek semata, yang tidak berguna, yang hanya dinilai dari fisiknya saja, dalam bahasa kerennya, 'Objectifying'. Yaps, masyarakat kita masih suka 'Objectifying Women'.

Guys, jangan tutup mata. Kita masih dianggap sebegitu rendahnya di mata masyarakat.
Maka dari itulah feminisme ini muncul. Bukan, bukan sebagai bentuk perlawanan terhadap pria, apalagi perlawanan terhadap ajaran agama.
TAPI SEBAGAI BENTUK PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA MASYARAKAT KITA YANG MASIH MENGANGGAP WANITA SEBAGAI WARGA KELAS DUA DALAM MASYARAKAT.
Jadi, apa salahnya?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hasil gambar untuk gender equality


Kenapa masyarakat anti sekali dengan kesetaraan gender?
Mereka bilang, "Karena perempuan dan laki laki memang berbeda nggak bisa disamakan!"
Ya siapa bilang kami bilang perempuan dan laki laki sama? Kami nggak bilang begitu. Laki laki dan perempuan tetap berbeda.
Yg kami advokasikan adalah KESETARAAN, bukan KESAMAAN.
KESETARAAN GENDER tidak sama dengan KESAMAAN GENDER
(Gender Equality is not Gender Similarity)
Contoh bentuk matematisnya:
3+6 = 8+1
Ini adalah bentuk matematis dari KESETARAAN. Di mana angka angka nya tetap berbeda, tapi NILAI nya tetap sama (dalam contoh ini, nilai kedua operasi matematis adalah 9)
5 = 5
Ini adalah bentuk KESAMAAN. Di mana 5 memang sama dengan 5, secara bentuk dan nilai, dianggap sama.
Jadi jelas, pergerakan mendukung gender equality tidak berarti menafikkan perbedaan antara pria dan wanita.
Kita tetap berbeda dalam ranah dan kodrat kita masing masing. Namun NILAI DERAJAT dan HAK kita, SETARA.
'SETARA' bukan berarti 'SAMA'.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Pertanyaan yang sedari dulu ada di pikiran, yaitu tentang definisi ikhlas dan tanpa pamrih dalam melakukan amal baik. Kita harus ikhlas dan tanpa mengharapkan imbalan ketika berbuat baik pada orang lain. Lantas jika kita berbuat baik karena ingin mendapat pahala, apa itu namanya tetap ikhlas dan tanpa pamrih?
Jika tak ada imbalan pahala, apa kita tetap mau berbuat baik?

Kenapa Anda bersedekah? "Karena dapat pahala", bukan karena ingin meringankan beban orang lain? Kenapa Anda membersihkan masjid? "Karena dapat pahala", bukan agar orang lain nyaman beribadah? Saya tidak tau apakah mengharapkan pahala juga termasuk kepada perilaku pamrih, sebab kita terbiasa dicekoki hal tersebut sebagai motivasi berbuat baik, bukan atas dasar kemanusiaan.

Entahlah.
Tapi saya rasa, selain rasa percaya pada Tuhan dan konsep surga dan nerakanya, lain dari itu, 'kemanusiaan' haruslah jadi alasan mengapa kita berbuat baik.
Dengan begitu, apapun agamamu, bahkan ketika kau tak beragamapun, atau apapun bangsamu, bahkan ketika kau tak berbangsapun, dunia akan tetap aman dan tenteram, sebab semua orang memiliki sensitifitas kemanusiaan, dan kemanusiaan tak mengenal perbedaan kepercayaan atau perbedaan kebangsaan


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hasil gambar untuk cartoon calls


Sebenarnya manusia dalam mencari jodoh itu seperti penjualan handphone. Tiap orang beda selera, beda kebutuhan, beda preferensi.

Ada yang menginginkan handphone dengan spek tinggi, dengan memori internal bergiga giga, denhan baterai ber mAh-mAh, tapi dengan harga yang murah, maka ia membeli Xiaomi. Konsekuensinya, orderdilnya cepat rusak.

Ada yang mencari handphone khusus camera phone agar menghasilkan hasil foto yang bagus, maka dia membeli Oppo.
Konsekuensinya, harga mahal namun spek rendah, hanya bagus di kamera saja.

Ada yang mencari handphone dengan merk populer agar harga jual kembali tidak jatuh dan onderdil mudah dicari, ada garansi resmi juga bukannya garansi distributor, bukan produk China, maka ia membeli Samsung.
Konsekuensinya, dengan harga yang sama seperti Xiaomi, spek nya kalah jauh.

Semua produk punya pangsa pasarnya masing masing.

Sama saja, 
Setiap orang juga punya pangsa pasarnya masing masing dengan kualitas yang dimiliki masing masing.


Ada perempuan yang suka laki laki berisi yang agak gendut, ada perempuan yang suka laki laki muscular, ada perempuan yang suka laki laki yang agak kurus. 
Ada laki laki yang suka perempuan berkaki jenjang, ada laki laki yang suka perempuan kecil mungil, ada laki laki yang senang perempuan berhijab, ada yang lebih suka perempuan dengan rambut tergerai.

Ada orang yang senang jenis orang yang cerdas berwawasan luas yang bisa diajak bicara mengenai apa saja, ada juga orang yang senang jenis orang yang gak banyak tau agar tidak terlalu banyak spekulasi atau perbedaan pendapat.
Ada orang yang senang jenis orang super soleh/solehah yang agak fanatik, ada orang yang senang jenis orang yang berpikiran lebih terbuka dan lebih fleksibel.

Jadi, gak perlu takut menunjukkan siapa kamu dengan 'features' yang kamu miliki.
Mereka tidak lebih baik darimu, dan kamu pun tidak lebih baik dari mereka. Setiap orang memiliki 'value' dan kualitasnya masing masing.

Jadi jangan risau tentang jodoh. Kalau belum dipertemukan sekarang, kamu nanti akan dipertemukan dengan orang yang suka dengan segala features yang kamu miliki, dan kamu adalah orang yang selama ini ia cari. Ia merupakan pangsa pasarmu, dan ia menjadi penawar tertinggimu.
Ia menawarmu dengan segala features yang ia miliki juga, yang ternyata, juga sesuai dengan tipe features yang kamu cari.

Bukan menobjektifikasi, namun hendaklah kita melihat konsep jodoh tidak seperti 'kompetisi'. Ketika berkompetisi, kita berlomba memalsukan segala features kita, karena berpikir hanya dengan itu ada orang yang bersedia menawar kita. Padahal, kita semua punya pangsa pasar masing masing dengan menjadi diri kita sendiri.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts

Popular Posts

  • Pangsa Pasar dalam Jodoh
    Sebenarnya manusia dalam mencari jodoh itu seperti penjualan handphone. Tiap orang beda selera, beda kebutuhan, beda preferensi...
  • Doktrin Sesat Felix Siauw tentang Perempuan
    Seorang Felix Siauw yang awalnya saya hormati dan saya kagumi dakwahnya, konon pernah membuat blunder isi kepala saya, hingga kini mas...
  • Makna Ikhlas
    Pertanyaan yang sedari dulu ada di pikiran, yaitu tentang definisi ikhlas dan tanpa pamrih dalam melakukan amal baik. Kita harus ik...

Siapa saya?

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk
Seorang Sarjana Hukum yang kini aktif di beberapa gerakan sosial. Menulis dari perspektif saya mengenai berbagai hal. Meskipun bergelar SH, saya justru bosan menulis tentang hukum.

Find me!

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Categories

  • CINTA DAN JODOH
  • HUKUM
  • ISU GENDER
  • KEHIDUPAN

Blog Archive

  • March 2019 (7)

Sponsor

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates